Demam Berdarah: Penanganan Lambat Berujung Kematian

Demam berdarah dengue (DBD) atau dengue haermorrhagic fever (DHF) bukan penyakit baru di Indonesia. Tahun 1969, kasus pertama DBD dilaporkan di Jakarta. Jauh hari sebelum itu, penyakit dengue, cikal bakal munculnya penyakit DBD, sudah dikenal di Indonesia sejak tahun 1779. Namun demikian, wabah DBD bukan dimulai di Indonesia, melaikan di Yunani, Amerika Serikat, Australia, dan Jepang, yang terjadi pada sekitar tahun 1920. Di Indonesia sendiri, selain di Iran, Malaysia, Singapura, dan Vietnam, penyakit dengue, atau seranga oleh virus penyebab DBD untuk yang pertama kali, hanya bersifat endemic. Hingga sekarang DBD senantiasa hadir di Indonesia dari musim ke musim. Tahun 2007 pada bulan april, DBD yang melanda Jakarta dinyatakan sebagai KLB (Keadaan Luar Biasa).

Virus dengue penyebab demam berdarah memerlukan perantara nyamuk untuk berpindah ke tubuh manusia. Nyamuknya sendiri harus dari jenis nyamuk belang-belang hitam Aedes, dan bukan oleh jenis yang lain. Nyamuk rumah lainnya tidak dapat membawa virus dengue, sehingga bukan nyamuk penularnya.

Demam Berdarah
Pemicu Demam Berdarah Nyamuk Aedes Aegypti

Kita mengenal jenis nyamuk Aedes aegypti, nyamuk yang gemar hidup di dalam rumah, dan ada juga Aedes albopictus, nyamuk belang hitam putih juga yang lebih menyukai tinggal di kebun sekitar rumah. Keduanya bisa menjadi pembawa virus dengue penyebab demam berdarah, atau disebut sebagai vector. Untuk Indonesia, Aedes aegypti lebih sering sebagai pembawa virus dengue dibanding Aedes albopictus.

Berbeda dengan si nyamuk kebun, Aedes albopictus, nyamuk Aedes aegypti lebih menyukai tinggal di ruangan rumah yang sejuk, lembab, dan gelap. Hinggapnya bukan di dinding, melainkan di barang-barang yang bergelantungan di kamar. Sedang nyamuk Aedes albopictus lebih menyukai berada di semak kebun sekitar rumah. Nyamuk demam berdarah bukan tergolong rakus. Ia hanya menggigit pada jam-jam tertentu saja. Itu pun hanya nyamuk betina yang menggigit. Darah manusia dibutuhkannya untuk bertelur. Jam praktik nyamuk Aedes berada pada pagi hari kisaran pukul 06.00-09.00, dan sore hari pukul 15.00-17.00. Di luar jam-jam tersebut nyamuk betina akan hinggap di air jernih tergenang untuk bertelur.

Umur nyamuk Aedes hanya sepuluh hari, paling lama dua-tiga minggu. Bertelur hingga 200-400 butir. Perindukannya pun bukan di air kotor seperti nyamuk lain, melainkan di air jernih. Bukan pula di sembarang air jernih, tetapi air jernih tergenang yang tidak terusik. Biasanya di air dalam wadah (kaleng bekas, talang air, ceruk pohon, gentong, jambangan bunga, baki penampungan air di alas kulkas).

Jarak terbang nyamuk Aedes bisa mencapai seratus meter. Maka luas fogging apabila sudah terjangkit kasus DBD, dilakukan sejauh radius seratus meter dari lokasi pasien DBD. Pamong yang mendapatkan laporan dari warga, wajib melaporkan kasus DBD ke dinas kesehatan untuk mendapatkan fogging.

Virus dengue berukuran mikron saja. Kita mengenal ada empat tipe. Ada yang ganas, ada pula yang lebih jinak. Tanpa bantuan nyamuk, virus dengue tak perlu ditakuti. Setelah berhasil memasuki tubuh manusia, virus hanya bertahan hidup tak lebih dari dua belas hari. Sesudah itu mati sendiri.

Darimana virus dengue penyeban demam berdarah ini datang? Virus dengue berasal dari tubuh orang yang sedang terserang virus dengue. Kemudian apabila ada nyamuk Aedes yang menggigit tubuh pasien pengidap virus, maka virus akan bersiklus hidup di dalam tubuh nyamuk.

Nyamuk yang di dalam tubuhnya terdapat virus, akan memindahkannya ke tubuh orang sehat setelah menggigitnya. Begitu seterusnya terjadi. Virus dengue berpindah dan berpindah lagi ke banyak tubuh sehat lainnya melalui gigitan nyamuk bervirus.

Di Indonesia sebetulnya sudah sejak dulu memiliki kedua jenis nyamuk Aedes ini. Namun, oleh karena baru belakangan ada virus dengue yang dibawa masuk ke sini, maka penyakit demam berdarah baru menyebar empat dasawarsa lalu.

Infeksi virus dengue untuk kedua kalinya
Ketika tubuh untuk pertama kalinya dimasuki virus dengue, akan muncul gejala “demam dengue”. Di Indonesia “demam dengue” dikenal sebagai “demam lima hari”. Dokter Inggris menjulukinya “saddle back fever” atau “demam pelana kuda”, hal ini dikarenakan demam ini memiliki ciri khas, yakni tiga hari pertama demam tinggi (39-40° C) kemudian demam akan mereda pada hari keempat, lalu demam kembali tinggi setelah hari kelima. Sehingga, kalau siklus ini digambarkan akan membentuk kurva yang menyerupai pelana kuda.

Bukan hanya demam. Bersamaan dengan demam pertama, muncul juga ruam merah pada wajah dan dada yang segera menghilang, sehingga sering luput dari pengamatan. Pasien akan merasakan nyeri kepala, lesu, nyeri pegal linu sekujur tubuh, khususnya punggung dan persendian.

Ruam merah pada kulit akan muncul kembali pada saat demam meninggi untuk kedua kalinya. Ruam merah awalnya muncul di kulit dada, yang kemudian menjalar ke anggota gerak, disusul dengan bintik-bintik kemerahan kulit, mirip bekas gigitan nyamuk. Setelah suhu badan menurun, biasanya akan menyisakan bercak kehitaman di punggung kaki atau tangan.

Jika pada kenaikan suhu kali kedua ini darah diperiksa, sel darah putih (leucocyt) turun, sedangkan jumlah thrombocyte, sel pembeku darah, masih normal. Berbeda dengan pada infeksi umumnya, sel darah putih akan meningkat, pada serangan virus dengue, leucocyt justru menurun. Ini terjadi oleh karena sumsum tulang sebagai pabrik pembuat sel darah ditekan oleh reaksi imun akibat masuknya virus dengue.

Yang agak khas, selain gambaran demamnya, serangan virus dengue untuk pertama kali, memunculkan keluhan nyeri bila dilakukan penekanan pada bagian bawah ulu hati. Temuan nyeri ulu hati ini dinilai khas untuk kasus “demam dengue”.

Bukan kejadian jarang, kasus “demam dengue” bersifat tidak khas. Jenis demam yang tidak jelas seperti ini, sering dikelompokkan ke dalam kasus “demam yang tidak terdiferensiasiakan”. Namun, kita masih bisa tahu kalau itu “ demam dengue” jika pada saat itu dilakukan pemeriksaan darah, zat kekebalan immunoglobulin (Ig) jenis IgM positif.

Setelah serangan virus dengue untuk pertama kali, tubuh akan membentuk kekebalan spesifik untuk dengue, namun tidak bersifat absolut. Artinya, masih mungkin diserang untuk kedua kalinya, atau lebih. Oleh karena ada lebih dari satu tipe virus dengue, maka seseorang bisa terserang virus dengue lebih dari satu kali.

Apabila tubuh yang sama terserang virus dengue tipe yang berbeda, maka muncullah penyakit DBD. Berbeda dengan “demam dengue”, selain demam yang khas dengue, disertai pula dengan gejala pendarahan, selain kemungkinan munculnya syok.

Pada infeksi virus dengue ulangan, terjadi reaksi imun yang lebih hebat di dalam tubuh. Respons tubuh yang sudah pernah diserang virus dengue sebelumnya, akan lebih sengit sehingga gejala penyakitnya akan lebih hebat. Pada tubuh yang cukup gizi, respons tubuh lebih sengit dibanding pada tubuh yang kekurangan gizi. Demam berdarah lebih hebat pada tubuh yang tidak kekurangan gizi, dan jarang pada tubuh yang kurang gizi.

Demam dengan pendarahan dan syok
Akibat sengitnya reaksi tubuh terhadap masuknya virus dengue untuk kedua kalinya, terdapat tiga kejadian di dalam tubuh:
1. Sumsum tulang belakang mengalami depresi. Produksi sel darah menurun dan berkualitas rendah pula. Termasuk turunnya trombosit dan leukosit. Trombosit menurun mengancam terjadinya pendarahan.
2. Dinding pipa pembuluh darah bocor, sehingga cairan darah berkurang
3. Reaksi zat kekebalan tubuh dengan virusnya, menimbulkan peperangan dalam darah yang beresiko mencetuskan terjadinya syok sehingga organ hati mungkin mengalami kerusakan.

Untuk memastikan seseorang sudah dimasuki virus dengue, dilakukan isolasi virusnya dari darah. Namun, oleh karena virus beredar dalam darah penderita tidak lama, sehingga sering tak mudah menemukan virus untuk diisolasi, maka pemeriksaan Ig, dan gejala dan tanda penyakit yang kelihatan menjadi dasar untuk mendiagnosis demam berdarah .

Selain perlu dikenali, gejala pendarahan dan awal syok harus diwaspadai. Pendarahan dan syok yang membawa kematian pasien demam berdarah. Untuk itu, pemeriksaan darah perlu dilakukan berulang setiap beberapa jam. Keluhan nyeri perut, muntah dan mencret, harus diwaspadai sebagai pendahuluan akan terjadinya syok.

Demam berdarah mengenal empat tahap. Tahap satu hanya demam dengan gejala yang tidak khas. Satu-satunya tanda, bila pemeriksaan Tourniquet hasilnya positif. Pada pemeriksaan dapat dimunculkan bintik-bintik pendarahan di kulit lengan bawah. DBD tahap dua merupakan gabungan tahap satu ditambah dengan gejala bitnik atau bercak pendarahan kulit spontan, dan trombosit sudah turun. Tahap tiga, sudah terjadi kegagalan sirkulasi darah, dan tahap empat, bila sudah terjadi syok.

Obat DBD hanya infus
Belum ada obat untuk melumpuhkan virus dengue. Yang bisa dilakukan dalam penanggulangan DBD hanya memberikan infus sedini mungkin. Mengapa? Oleh karena kegagalan sirkulasi darah yang berujung kematian pada kasus DBD.

Sirkulasi darah pada pasien demam berdarah terganggu karena pembuluh darah bocor, plasma darah merembes keluar, sehingga darah kehilangan plasma, dan menjadi kekurangan volume (hypovolemia). Keadaan darah kehilangan plasma inilah yang mengancam terjadinya syok. Dan ini tampak dari pemeriksaan Haematocrit (Hct) yang meningkat (lebih dari 40 persen). Maka Hct perlu terus menerus dimonitor untuk mengetahui bila saatnya syok mulai mengancam.

Terjadinya syok juga memunculkan pendarahan. Syok dan pendarahan yang membawa kematian. Yang sama terjadi apabila serangan demam berdarah tergolong jenis yang lebih ganas, yakni Dengue Shock Syndrome (DSS). Sepertiga kasus demam berdarah kemungkinan tergolong DSS. Dalam hitungan hari, pasien langsung masuk ke dalam fase syok, dan biasanya berakhir fatal.

Bila sudah terjadi pendarahan, transfuse darah perlu diberikan. Pada kebocoran darah yang hebat, dan trombosit turun terus, perlu diberikan cairan plasma (plasma expander), atau mungkin perlu diberikan transfuse trombosit saja.

Bila pemberian infus belum terlambat, pasien demam berdarah umumnya tertolong. Kematian dalam kasus demam berdarah sering terjadi karena terlambat mendapatkan infus, jenis virusnya lebih ganas, dan demam berdarah dengan kerusakan hati dan ginjal. Pendarahan yang terjadi pada kelenjar adrenal (anak ginjal), cenderung beresiko langsung jatuh ke dalam syok.

Demam berdarah masih mungkin dicegah
Belum ada vaksin antidengue, sehingga tubuh belum bisa dibuat kebal terhadap virus ini. Namun, bukan berarti tidak ada acara untuk dapat terbebas dari serangan virus dengue. Rantai penularan virus dengue harus diputus, sehingga tidak memasuki tubuh manusia, dengan meniadakan peran nyamuk Aedes-nya.

Sesungguhnya tidak perlu sampai terjangkit demam berdarah, kalau masyarakat diajak melakukan beberapa kiat. Bebaskan lingkungan rumah dari nyamuk Aedes dan jentiknya, dengan cara:
1. Lakukan penyemprotan sendiri di rumah dengan obat nyamuk biasa.
2. Singkirkan tempat perindukan nyamuk Aedes di rumah dan sekitarnya.
3. Jangan ada air tergenang tak terusik di rumah dan sekitarnya.
4. Laporkan kepada ketua RT bila ada tetangga terjangkit demam berdarah.
5. Tidur berkelambu, terutama siang hari.
6. Baluri kulit lengan dan tungkai dengan obat anti nyamuk.

Waspadalah ketika anak-anak bermain di siang hari, selama musin demam berdarah berjangkit, selalu kenakan anti nyamuk di kulit mereka. Setiap nyamuk Aedes selama musin demam berdarah harus dicurigai membawa virus dengue.

Tidak semua kasus demam berdarah khas gambaran penyakitnya. Tidak selalu persis sifat demamnya. Bukan saja hanya menyerang usia anak-anak, sekarang juga menyerang orang usia dewasa. Gejalanya mungkin hanya nyeri kepala belaka. Mungkin tidak nyata sama sekali. Maka, kecurigaan terhadap setiap demam harus lebih ditingkatkan kalau sedang musim demam berdarah. Setiap demam yang terjadi di daerah endemic DBD harus selalu dicurigai sebagai demam berdarah.